Fenomena Lagu Buatan AI yang Sedang Naik Daun, 'My Little Bolu Ketan' Viral di TikTok

Sebuah lagu tentang seorang menteri, dibuat sepenuhnya oleh kecerdasan buatan, dipakai ratusan ribu kali di TikTok, sampai mantan presiden ikut bergoyang di depan rumahnya.
Kedengarannya absurd, tapi My Little Bolu Ketan justru jadi potret paling jelas dari pergeseran besar yang sedang terjadi di dunia musik: era ketika siapa saja bisa membuat lagu viral hanya bermodalkan teks prompt dan model AI. Fenomena ini bukan sekadar soal lagu lucu, melainkan soal bagaimana musik diciptakan, didengar, dan diperdebatkan pada 2026.
Dari Kolom Komentar Jadi Lagu Viral
Cerita My Little Bolu Ketan berawal dari sebuah video wawancara Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang gaya bicaranya, lengkap dengan sapaan "kanda" dan "dinda", menarik perhatian warganet pada April 2026. Kolom komentar pun dipenuhi candaan, yang kemudian dikumpulkan dan diolah oleh akun TikTok @VOKALIZ_NETIZEN menjadi sebuah lagu berbasis AI.

Hasilnya meledak. Unggahan lagunya menembus 14,8 juta views dan 1,1 juta likes, sementara sound-nya dipakai lebih dari 606 ribu kali sebagai latar video, mulai dari konten meme, edit wajah, sampai karaoke receh. Tren ini naik sekitar 24 sampai 25 Mei 2026 dan cepat menyebar ke Instagram Reels. Akun pembuatnya memang dikenal rutin mengubah komentar receh netizen menjadi lagu full aransemen dengan AI, lengkap dengan keterangan terbuka bahwa kontennya dibuat menggunakan AI.
Popularitasnya bahkan sampai ke level tak terduga: Presiden ke-7 Joko Widodo ikut membagikan momen sekelompok anak muda berjoget mengikuti lagu itu di depan rumahnya di Solo. "Rupanya lagu Pak Bahlil sampai ke halaman rumah," tulisnya.
Cukup Ketik Teks, Lagu pun Jadi
Yang membuat fenomena ini mungkin terjadi adalah lompatan teknologi generative AI. Lewat platform seperti Suno dan Udio, siapa pun kini bisa menciptakan lagu utuh, vokal dan instrumen sekaligus, hanya dari sebuah prompt teks. Apa yang dulu butuh studio, musisi, dan produser, sekarang bisa dikerjakan dengan laptop dan beberapa baris kalimat. Skalanya tidak main-main. Suno saja dilaporkan menembus 2 juta pelanggan berbayar, dengan lebih dari 100 juta orang yang pernah memakainya, dan pendapatan tahunan melampaui USD 300 juta.

Akibatnya, ribuan lagu buatan AI kini membanjiri platform streaming setiap saat tanpa banyak orang sadari. Fenomena ini juga bukan khas Indonesia. Pada pertengahan 2025, sebuah "band" bernama The Velvet Sundown sempat mengumpulkan lebih dari 1 juta streaming di Spotify dalam hitungan minggu, sebelum akhirnya terungkap bahwa musik, foto, hingga kisah latar mereka semuanya buatan AI.
Dua Sisi Perdebatan
Fenomena ini memecah pendapat. Di satu sisi, para pendukung melihat AI sebagai alat yang mendemokratisasi kreativitas. Musisi independen tanpa modal besar kini punya peluang untuk berkarya dan didengar, dan dari sudut pandang ini, AI bukan eksploitasi melainkan pemberdayaan.
Di sisi lain, banyak pelaku industri khawatir. Sekelompok perwakilan artis bahkan meluncurkan kampanye 'Say No to Suno', dengan argumen bahwa membanjirnya konten AI, yang mereka sebut "AI slop", menggerus kolam royalti milik musisi sungguhan. Label-label besar pun mulai melawan soal hak cipta dan data yang dipakai untuk melatih model AI. Sejak 2024, ratusan musisi termasuk Billie Eilish, Nicki Minaj, Katy Perry, dan Stevie Wonder menandatangani surat terbuka yang mendesak perusahaan AI berhenti melatih model dari karya berhak cipta.

Sentimen pendengar pun cenderung dingin. Sebuah studi dari Luminate pada 2026 menemukan konsumen secara umum bersikap negatif terhadap musik AI, dengan lagu yang sepenuhnya buatan AI dipandang paling negatif.
Meski begitu, industri mulai mencari jalan tengah. Warner Music Group menjalin kesepakatan dengan Suno pada November 2025 untuk model berlisensi yang memberi artis kontrol atas penggunaan nama, suara, dan rupa mereka, sementara Universal Music Group lebih dulu menyelesaikan sengketa dengan Udio pada Oktober 2025. Di sisi lain, Spotify mendorong pendekatan yang menekankan keterbukaan, dengan meminta pengunggah menandai lagu yang mengandung unsur AI agar pendengar tahu apa yang mereka sebenarnya sedang dengarkan.
Apa Artinya buat Musik Indonesia?
Kembali ke My Little Bolu Ketan, fenomena ini memperlihatkan satu hal yang jelas: ada selera besar di Indonesia untuk konten musik yang lahir dari budaya internet, se-instan dan se-spontan komentar di kolom TikTok. Pertanyaannya, ke mana arah berikutnya?
Bagi sebagian orang, lagu AI dari komentar netizen adalah hiburan ringan yang kreatif dan khas Indonesia. Bagi sebagian lain, karya AI memunculkan pertanyaan serius soal orisinalitas, royalti, dan masa depan musisi lokal. Yang sejauh ini tampak jadi titik tengah adalah transparansi, yaitu keterangan jujur bahwa sebuah lagu dibuat dengan AI, sehingga pendengar bisa menilai sendiri karya yang mereka bersedia untuk nikmati.
Satu hal yang pasti, fenomena lagu AI tidak akan pergi dalam waktu dekat. Teknologinya makin murah, makin cepat, dan makin mudah diakses siapa saja. Yang masih harus ditentukan adalah bagaimana pendengar, musisi, dan platform beradaptasi, dan apakah lagu seperti My Little Bolu Ketan kelak dikenang sebagai lelucon sesaat atau penanda awal sebuah era baru.
Baca juga: Celyna Grace Resmi Juara Indonesian Idol XIV, Unggul dari Niki Becker di Grand Final.



