Volix
sportspsgliga championsarsenalfinal liga champions 2026luis enriquechampions leaguesepak bolaadu penalti

PSG Pertahankan Gelar Liga Champions Usai Tekuk Arsenal Lewat Drama Adu Penalti

Iqbal Baskari·
PSG Pertahankan Gelar Liga Champions Usai Tekuk Arsenal Lewat Drama Adu Penalti
Via IG/psg

Paris Saint-Germain (PSG) memastikan diri sebagai raja Eropa untuk dua musim beruntun. Dalam laga final UEFA Champions League 2026 yang digelar di Puskás Aréna, Budapest, pada Sabtu, 30 Mei 2026, PSG menundukkan Arsenal lewat adu penalti dengan skor 4-3, setelah kedua tim bermain imbang 1-1 hingga babak tambahan.

Kemenangan ini menjadikan PSG sebagai tim pertama yang berhasil mempertahankan gelar Liga Champions sejak Real Madrid pada 2018, sekaligus menutup rapat mimpi Arsenal meraih trofi Eropa pertama dalam sejarah klub.

Arsenal Unggul Cepat, PSG Menyamakan dari Titik Putih

Bertanding dengan status juara bertahan, PSG justru tertinggal lebih dulu. Baru enam menit laga berjalan, Kai Havertz membobol gawang Matvei Safonov setelah memanfaatkan bola sapuan yang gagal dihalau, lalu melepaskan tembakan keras dari sudut sempit.

Gol ini tercatat sebagai gol tercepat di final Liga Champions sejak Mohamed Salah mencetak gol di menit kedua untuk Liverpool pada 2019. Menariknya, Havertz juga pernah mencetak gol tunggal di final 2021 saat membela Chelsea, menjadikannya pemain ketiga di era Liga Champions yang mencetak gol di dua final untuk dua klub berbeda, menyusul Cristiano Ronaldo dan Mario Mandžukić.

Via IG/psg

PSG yang lebih menguasai jalannya pertandingan terus menekan, tapi lini belakang Arsenal yang dikomandoi Gabriel dan William Saliba tampil sangat disiplin. Sebagai catatan, Arsenal hanya kebobolan enam gol sepanjang perjalanan menuju final, dan satu lagi nirbobol akan membawa mereka ke gelar pertama.

Peluang PSG akhirnya datang dari titik putih: Cristhian Mosquera menjatuhkan Khvicha Kvaratskhelia di kotak penalti, dan Ousmane Dembélé dengan tenang mengecoh David Raya untuk menyamakan kedudukan di menit ke-65. Hingga waktu normal usai, skor tetap 1-1 dan laga berlanjut ke babak tambahan.

Drama Adu Penalti, Gabriel Jadi Penentu

Babak tambahan tidak mengubah keadaan. PSG mendominasi penguasaan bola hingga 72 persen dan melepaskan jauh lebih banyak tembakan, tapi pertahanan Arsenal tetap sulit ditembus, sehingga laga harus ditentukan lewat adu penalti, yang pertama di final Liga Champions sejak 2016.

Drama pun pecah. Di kubu Arsenal, Eberechi Eze menendang melebar, sementara di pihak PSG, tendangan Nuno Mendes sempat dimentahkan Raya. Namun momen penentu justru milik Arsenal: Gabriel Magalhães melepaskan tendangan yang melambung jauh di atas mistar. PSG pun memastikan kemenangan 4-3 dalam adu penalti, dengan kapten Marquinhos mengangkat trofi di Budapest.

Rekor Luis Enrique dan Catatan PSG

Via IG/psg

Kemenangan ini menorehkan sejumlah rekor. Luis Enrique meraih gelar Liga Champions ketiganya sebagai pelatih, setelah sebelumnya membawa Barcelona juara pada 2015 dan PSG musim lalu. Ia juga menjadi pelatih asal Spanyol pertama yang menjuarai kompetisi ini dua musim beruntun sejak José Villalonga bersama Real Madrid pada era 1950-an.

Sepanjang kampanye musim ini, PSG menyamai rekor Barcelona pada musim 1999/2000 untuk jumlah gol terbanyak dalam satu musim sejak fase grup, yaitu 45 gol. Gelandang Vitinha dinobatkan sebagai Pemain Terbaik di laga final, sementara Dembélé melanjutkan ketajamannya dengan enam gol dalam empat penampilan terakhirnya di Liga Champions.

Di sisi lain, ini menjadi akhir yang menyakitkan bagi Arsenal. Tim asuhan Mikel Arteta itu datang ke final dengan modal percaya diri setelah merebut gelar Liga Inggris pertama mereka dalam 22 tahun. Sayangnya, gelar Eropa pertama dalam sejarah 140 tahun klub masih harus tertunda.

Ada catatan menarik di balik kekalahan ini: dalam 11 final Liga Champions sebelumnya, tim yang mencetak gol lebih dulu selalu keluar sebagai juara. Arsenal sempat memimpin lewat Havertz, tapi kali ini tren tersebut terhenti.

Reaksi dan Agenda Berikutnya

Para pemain PSG larut dalam kebahagiaan. Désiré Doué mengaku sangat bangga dan bersyukur, sekaligus memuji perlawanan Arsenal yang ia sebut sebagai lawan tangguh dengan musim yang luar biasa. Rekannya, Gonçalo Ramos, menekankan bahwa timnya menunjukkan karakter dan kesiapan menghadapi segala situasi.

Bagi PSG, gelar ini semakin mengukuhkan posisi mereka sebagai salah satu kekuatan paling dominan di sepak bola Eropa saat ini. Tak ada waktu lama untuk berpuas diri, karena PSG sudah ditunggu laga UEFA Super Cup melawan juara Liga Europa, Aston Villa, di Salzburg pada 12 Agustus mendatang.

Final ini menjadi penegasan bahwa PSG bukan lagi sekadar penantang, melainkan dinasti baru di Eropa. Sementara bagi Arsenal, malam di Budapest meninggalkan luka sekaligus pelajaran, dan bisa jadi bahan bakar untuk kembali lebih kuat pada musim depan.

Baca juga: Imbang 0-0 vs Persijap, Persib Bandung Cetak Sejarah Hattrick Juara Super League 2025/2026.

Baca Juga