Volix
exclusivemoviesmonster pabrik rambutedwinfilm horor indonesiapalari filmsiqbaal ramadhanrachel amandaluteshasleep no morefilm indonesia 2026

'Monster Pabrik Rambut': Ketika Horor Dunia Kerja Berpadu Dengan Retro Filmmaking

Iqbal Baskari·
'Monster Pabrik Rambut': Ketika Horor Dunia Kerja Berpadu Dengan Retro Filmmaking
Via Palari Films

Monster Pabrik Rambut menjadi film terbaru garapan Edwin, salah satu sineas veteran Indonesia yang telah membawakan Posesif (2017), Ali & Ratu Ratu Queens (2021) dan Kabut Berduri (2024). Penonton Tanah Air dapat menyaksikan film ini di bioskop mulai Kamis, 4 Juni 2026 usai tayang di Berlinale 2026 dengan judul internasional Sleep No More.

Edwin kembali berkolaborasi dengan Palari Films untuk mempersembahkan film horor fantasi ini, bersama penulis skenario Eka Kurniawan. Bukan sekadar horor, Edwin ingin menggarap tontonan yang fresh dan relatable bagi masyarakat Indonesia lewat Monster Pabrik Rambut. Hasilnya adalah salah satu film horor yang patut masuk ke dalam watchlist para penikmat film Tanah Air di bulan Juni ini.

Berikut merupakan beberapa fakta tentang Monster Pabrik Rambut:

1. Sinopsis Film

Monster Pabrik Rambut berkisah tentang Putri (Rachel Amanda) dan Ida (Lutesha), duo kakak adik yang menyelidiki kematian ibu mereka di sebuah pabrik rambut setempat. Mereka berujung mengambil pekerjaan di pabrik tersebut dan bertemu dengan bos pabrik, Maryati (Didik Nini Thowok).

Sementara itu, adik lelaki Putri dan Ida yang bernama Bona (Iqbaal Ramadhan) memiliki kemampuan regenerasi bagian tubuh yang jauh di atas normal. Ketika Maryati mengetahui hal tersebut, ia menculik Bona tanpa sepengetahuan Putri dan Ida.

Keduanya pun harus mencari tahu kebenaran di balik kematian sang ibu dan hilangnya Bona. Hal tersebut tak akan mudah di tengah-tengah misteri karyawan kerasukan dan kehadiran sesosok monster mengerikan yang mengendap-ngendap di kegelapan pabrik.

2. Kerja Lagi, Kerja Lagi

Seperti yang telah disebut sebelumnya, Monster Pabrik Rambut menjadi kesempatan bagi Edwin untuk mengangkat cerita yang relatable bagi para penonton. Cerita filmnya mengomentari masalah overworking di dunia kerja yang sering menjadi sumber masalah bagi work-life balance para pegawainya sejak dulu.

Acara Press Conference dan Press Screening Film di Kawasan Kuningan pada Senin (1/6).
Acara Press Conference dan Press Screening Film di Kawasan Kuningan pada Senin (1/6). · Via VOLIX
"Dari dulu sampai sekarang, film-film horor itu lahir dari ketakutan-ketakutan yang muncul dari keseharian, dari sistem. Kita memang terbiasa melihat horor itu sebagai kritik sosial," ujar Edwin saat menghadiri acara konferensi dan screening pers di kawasan Kuningan pada Senin, 1 Juni 2026.

"Sejak awal waktu kami masih ngobrol-ngobrol mencari ide, kita memang pengen bikin film horor tapi berdasarkan realitas. Kami berpikir bahwa sebetulnya tanpa harus minjem-minjem ke mitologi, sehari-hari juga bisa cukup sangat horor. Sampai kita ngomongin masalah kerja, overworking, lembur," lanjut Eka Kurniawan.

3. Blast to the Past

Via Palari Films

Keunikan lainnya dari Monster Pabrik Rambut yaitu bagaimana Edwin mengemas filmnya dalam gaya filmmaking retro yang akan mengingatkan para penikmat film dengan judul-judul horor jadul dari era 1970-1980an.

Ini menjadi salah satu taktik Edwin untuk bermain dengan bentuk horor. Salah satu caranya yaitu dengan menciptakan ketegangan dari nuansa atmosferik dan banyak mengandalkan practical effects ketimbang CGI.

Untuk menciptakan nuansa atmosferik horor fantastis yang retro, Edwin menggandeng desainer produksi Menfo Tantono, pemenang Piala Citra FFI 2024 untuk Penata Artistik Terbaik. Mereka menyulap Studio PFN menjadi sebuah pabrik rambut dengan kehadiran rambut asli hingga sekitar dua truk, beserta manekin, prostetik, sisir paku, dan berbagai elemen yang ada di pabrik rambut/wig di dunia nyata.

Visual dan scoring-nya pun dibuat sedemikian rupa agar film terkesan seperti loncat dari periode jadul tersebut. Gabungan dari semua elemen di atas menjadikan film ini tontonan wajib bagi para penikmat film-film horor old but gold.

4. Ancaman Nyata yang Tak Nyata

Via Palari Films

Sebagai sosok bintang yang menjadi judul film ini, sang monster harus mendapatkan perlakuan istimewa dari para filmmakers agar mampu menjadi ancaman yang dapat dirasakan oleh para penonton. Maka dari itu, Edwin memilih untuk mengambil jalur practical dalam menciptakan monster-nya.

"Kami semua sepakat dari awal untuk men-desain sebisa mungkin practical, bisa dipegang dan dilihat. Meminimalisasi komputerisasi yang kompleks, karena buat kami film itu sensori, memang bisa dipegang, dilihat dan bahkan ada baunya," jelas Edwin.

Visi kreatif tersebut membuahkan kreasi yang menakutkan dan sekaligus mengesankan. Sosok monster rambut raksasa yang sebagian besar hadir langsung di lokasi syuting dan dikendalikan oleh para kru film. Alhasil, para bintang filmnya juga harus turun ke set untuk berinteraksi langsung dengan monster tersebut, dan reaksi dari mereka pun beragam.

5. Bintang Lintas Bidang

Via Palari Films

Dari Rachel Amanda dan Lutesha hingga Iqbaal Ramadhan dan Sal Priadi, bahkan Kev. Monster Pabrik Rambut menghadirkan wajah-wajah familiar yang kini sedang bersinar di panggung hiburan Tanah Air.

Peran Rachel dan Lutesha menjadi representasi perempuan-perempuan kuat yang berani untuk menantang sistem kapitalis yang opresif terhadap para pekerjanya. Sementara itu, Iqbaal memainkan peran ter-'anehnya' sejauh ini yaitu sebagai gembel jalanan dengan kemampuan regeneratif yang tinggi.

"Bona adalah karakter yang unik, ajaib, fantastis, dan aneh. Bentuknya berbeda tapi tetap punya keterkaitan yang penting dengan cerita yang diangkat di film ini. Bona juga jadi simbol resistansi terhadap standar produktivitas gila-gilaan yang dipaksakan oleh sebuah sistem kepada diri kita yang banyak terjadi saat ini dan banyak dinormalisasi," jelas Iqbaal.

Tidak hanya berakting, Sal Priadi juga turut berkontribusi untuk film ini dari sisi musik. Single baru Kepala, Pundak, Kerja Lagi hadir sebagai musik pengiring film ini yang begitu cocok dengan tema dan pesan moral yang dibawakan para filmmakers.

Lanskap horor di industri perfilman Indonesia tiap hari semakin dipenuhi dengan judul-judul yang terkesan 'itu-itu saja' menurut para penonton. Hal tersebut menjadi tantangan bagi Edwin dan Palari Films yang akhirnya menghasilkan Monster Pabrik Rambut.

Lewat film ini, Edwin ingin mengingatkan masyarakat untuk terus menjadikan lingkungan kerja mereka semakin sehat demi kebaikan semua. Harapannya adalah agar Monster Pabrik Rambut dapat membawa manfaat baik bagi para penontonnya, sekaligus menjadi penghibur yang jitu dengan pengemasan filmnya yang fresh dan out-of-the-box.

Baca juga: 'Sekawan Limo 2: Gunung Klawih' Hadirkan Komedi Horor Plus Refleksi Tragedi Mei '98.

Baca Juga