Rupiah Tembus Rekor Rp 17.668 per USD, Pernyataan Prabowo 'Orang Desa Tak Pakai Dollar' Disorot Media Luar

Nilai tukar rupiah anjlok ke level terlemah dalam sejarah, menyentuh Rp 17.668 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026. Pelemahan tajam ini terjadi meski Bank Indonesia telah melakukan intervensi pasar.
Di tengah pelemahan tersebut, pernyataan Presiden Prabowo Subianto bahwa "orang desa tidak pakai dollar" menuai kritik luas dari para ekonom dalam negeri dan menjadi sorotan media internasional seperti Reuters, Bloomberg, dan Asia Times. Akibat ini semua, bursa saham Indonesia jadi ikut anjlok hingga 4 persen pada perdagangan yang sama, merespons keputusan MSCI menghapus 18 perusahaan Indonesia dari indeksnya.
Prabowo: 'Orang Desa Tak Pakai Dollar'
Pernyataan ini disampaikan Prabowo dalam dua acara berbeda di Nganjuk, Jawa Timur, pada Sabtu, 16 Mei 2026. Saat peresmian Museum Marsinah dan peluncuran program koperasi desa, Prabowo menyatakan pelemahan rupiah tidak berdampak signifikan ke masyarakat pedesaan.
"Berapapun ribu rupiah dollarnya, orang-orang di desa toh tidak pakai dollar," kata Prabowo.
Ia juga menyebut yang pusing dengan melemahnya rupiah hanyalah orang yang sering ke luar negeri, sambil menunjuk mantan istrinya Siti Hediati Hariyadi dan beberapa anggota kabinet sebagai contoh.
"Yakin ekonomi kita kuat, fundamental kita kuat. Apa orang mau bilang, Indonesia kuat," tambahnya. Prabowo bahkan bercanda bahwa selama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa masih bisa tersenyum, publik tidak perlu khawatir.
Reaksi Ekonom dalam Negeri
Pernyataan Prabowo langsung viral dan dikritik sejumlah ekonom. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menyebut Prabowo "tidak memahami masalah yang dihadapi Indonesia."
Menurut Bhima, ekonomi Indonesia sudah terintegrasi dengan sistem global, di mana kebutuhan masyarakat desa terkait dengan barang impor. "Harga pupuk untuk tanam padi, sampai tempe dan tahu yang ada bahan kedelai impor, semua terpengaruh dollar. Jangan dikira pelemahan rupiah terhadap dollar tidak merembet ke kenaikan biaya hidup di desa," jelas Bhima.
Direktur Ekonomi CELIOS Nailul Huda menambahkan bahwa kenaikan harga bahan baku impor seperti kedelai dan pupuk akan langsung berdampak ke biaya produksi padi dan pangan di pedesaan. Senior Analyst Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny Sasmita juga menyebut Prabowo "menyederhanakan secara berlebihan" bagaimana volatilitas nilai tukar memengaruhi ekonomi.
Sorotan Media Internasional
Reuters dalam laporan Senin, 18 Mei 2026 menulis rupiah jatuh ke rekor terlemah meski Bank Indonesia sudah intervensi, dan Prabowo "meremehkan" dampak pelemahan rupiah terhadap masyarakat. Reuters juga mencatat bahwa bahkan sebelum eskalasi geopolitik di Timur Tengah, rupiah dan saham Indonesia sudah tertekan oleh kekhawatiran investor soal transparansi pasar, independensi bank sentral, dan rencana belanja agresif pemerintah.
Bloomberg Technoz menyoroti DPR yang mengadili Bank Indonesia di Komisi XI. Asia Times menyebut pendekatan otoritas moneter Indonesia sebagai "ostrich policy" atau kebijakan kepala burung unta yang menutup masalah di pasir. Jakarta Post juga mencatat pernyataan Prabowo bisa mengirim "sinyal berbahaya" ke pasar yang berpotensi memberi pukulan lanjutan ke mata uang.
4 Faktor di Balik Pelemahan Rupiah
Setidaknya empat faktor mendorong rupiah ke rekor terlemah.
Pertama, eskalasi geopolitik di Timur Tengah dan blokade Selat Hormuz yang mendorong harga minyak Brent ke US$ 111,42 per barel. Indonesia sebagai importir minyak 1,5 juta barel per hari terkena dampak langsung. Kedua, MSCI menghapus 18 perusahaan Indonesia dari indeksnya pada review Mei 2026, memicu jual besar-besaran dari investor asing. Ketiga, cadangan devisa Indonesia turun empat bulan berturut-turut, dari US$ 156 miliar menjadi US$ 146,2 miliar. Keempat, kepemilikan surat berharga negara oleh Bank Indonesia membengkak dari Rp 332 triliun pada 2025 menjadi Rp 465 triliun pada 2026, sinyal intervensi yang semakin besar.
Apa Berikutnya?
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XI DPR mengatakan BI sudah "menambah dosis intervensi" di pasar valuta asing. Ia memprediksi tekanan rupiah akan mereda mulai Juli-Agustus 2026, ketika permintaan dollar musiman untuk repatriasi dividen, pembayaran utang, dan haji menurun.
Bank Indonesia menjadwalkan rapat Dewan Gubernur bulanan pada Rabu, 20 Mei 2026 untuk menentukan kebijakan moneter selanjutnya. Pemerintah juga sudah menaikkan anggaran subsidi BBM untuk meredam dampak harga minyak global yang melonjak.

Baca juga: Hantavirus Sudah Masuk Indonesia: Cara Kerja, Gejala, dan Cara Mencegahnya.



